Apa sih gunanya kata?
Aku berjalan di parkiran kampus malam ini. Terlintas di benakku untuk bersantai di ruang favoritku, di lounge yang selalu kudamba karena kenyamanannya: MYC Lounge.
Sambil terus membetulkan posisi si mungil notebook Pico milikku di dalam ransel berbentuk celana buatanku, aku menapak di atas paving block yang sudah sangat familier di sepatu sandalku itu, dari gedung F menuju gedung C. Pikiranku penuh dengan keinginan yang beraneka ragam, dan aku sangat tidak suka kenyataan bahwa aku hanya punya sedikit waktu untuk memenuhi semuanya karena semua keinginanku bukanlah barang, melainkan kegiatan.
Setelah menaiki tiga sesi tangga, akhirnya aku bisa menghirup harum ruangan yang kukenal sebagai tempat kerjaku selagi waktu senggang kuliah. Hawa dingin sejuk menjalar di kulitku sementara kakiku teru menaiki anak tangga dan tanganku menggenggam handphone berkeypad qwerty dan berlayar lebar (teman-temanku menjulukinya kalkulator karena besarnya yang serupa dengan kalkulator pedagang di pasar).
Aku memilih untuk dekat di sudut, di dekat jendela (sebenarnya, tidak ada dinding di sini kecuali dinding yang bersebelahan dengan perpustakaan, semuanya adalah kaca). Hening, hanya beberapa orang baru saja lewat dan pulang. Aku mengeluarkan Pico dan menyalakannya. Kak Mia, sekertaris dari Mr. Matt– Head of MYC, melambai padaku dan mengucapkan terima kasih karena sudah melayani di MYC Friday Night. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan browsing web. Terpikir olehku untuk menulis kembali di blog POLAR ini.
Saat aku melewati parkiran, banyak tulisan di sana.
Welcome to Universitas Pelita Harapan, a Non-Smoking Campus
Tulisan lainnya… Aku lupa, namun lumayan banyak tulisan di sepanjang perjalanankku di parkiran.
Apa arti kata? Aku bisa berbahasa Inggris, maka aku mengerti tulisan itu. Tapi bagaimana kalau tidak? Bagaimana aku membaca tulisan itu? Tentu bukan dengan cara “Welcam tu Universitas Pelita Harapan, e Non-Smoking Kempus”, namun mentah sesuai yang tertulis — tentunya dalam bahasa Indonesia. Sehingga tulisan itu tentu tidak ada arti apa-apa bagiku, atau tidak kumengerti sama sekali.
Aku kembali berpikir, bagaimana kalau aku tidak mengerti bahasa Indonesia. Tidak mengerti bahasa apa-apa sama sekali! Kemudian aku membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak umur 1 tahun yang belum bisa membaca, semua huruf seperti simbol-simbol asing yang tak dimengerti. Aku melihat orang dewasa membacanya dan mengangguk-angguk mengerti, namun saat aku melihat apa yang mereka lihat, aku hanya melihat guratan garis-garis yang saling membentuk suatu tanda, berbaris rapi dalam aturan yang tidak kumengerti.
Sepertinya dunia ini penuh dengan kata. Dari kata yang baik, sampe yang buruk, bahkan jahat. Jahat? Tidak, kata adalah benda yang netral. Yang jahat adalah yang menggunakannya demi kejahatan.
Menyakiti sesama manusia kita dengan kata-kata kita pastinya sangat menyakitkan. Ada pepatah mengatakan
Lidah bagaikan pedang bermata dua
Bisa menyakiti orang lain, bisa pula menyakiti diri sendiri, namun bisa pula berguna bagi diri sendiri dan orang lain
Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan
Dari pepatahnya pun sepertinya kata-kata yang kita produksi dari mulut bibir kita sepertinya sangat berbahaya dan berdampak besar.
Sebuah benda bisa dinamai oleh dua nama yang berbeda, namun maknannya pun sedikit berbeda:
Wanita itu memang tidak punya suami, apalagi keluarga.
dengan
Perempuan itu memang tidak punya suami, apalagi keluarga.
Wanita dan perempuan. Figur apa yang kita bayangkan ketika menyebut ‘wanita’? Anggun, cantik, dewasa, cerdas, dan penuh wibawa. Wanita identik dengan hal yang baik, terdengar lebih halus dan sopan.
Kalau kita pernah mendengar “perempuan jalang”, “perempuan macam apa kau?”, “perempuan itu sudah merebut harta kita!”, dan berbagai macam kata yang menyangkut ‘perempuan’ pasti bergabung dengan kata-kata yang rata-rata buruk, sehingga konotasinya menjadi kurang baik bahkan kasar.
Aku menuang segala pikiranku itu ke dalam jariku yang menari-nari di atas keyboard Pico yang mungil. Waktu pun sudah menunjukkan 21 lewat 51 menit. Waktunya aku pergi menghabiskan sisa malam ini…

January 15th, 2010 at 11:02 pm
kata hanya sebatas sebuah kata. sebuah gabungan dari huruf K-A-T-A yang disetujui urutannya menjadi seperti itu bukan seperti T-A-K-A atau A-AT-K atau urutan yang lainnya…….
January 16th, 2010 at 6:46 am
Tidak juga. Bagaimana kalau namanya bukan KATA? Kenapa tidak WORD? Atau PAIJO? Atau WISNU?