Sakit Perut

Ya, aku tahu ini adalah waktu yang terlalu dini untuk mulai menulis. Jam di notebookku menunjukkan 5:38 AM. Namun aku sudah terlanjur menyalakan notebook dan tiba lagi di blog yang selalu kucintai ini, walaupun bukan milikku sepenuhnya.

Aku dibangunkan oleh kebiasaan, sehingga mataku sudah siap terjaga jam 5 pagi kurang. Namun bukan karena mataku yang berat, tapi perut serasa penuh sekali. Aku tidakĀ  merasa ingin buang angin, tapi sepertinya memang ada angin di perutku. Aku tidak suka ini, mengingatkanku pada sakit maagku yang parah. Perutku semakin rentan saja terhadap jam makan, pikirku.

Segera setelah renungan pagi aku menuju kamar mandi umum yang hanya berjarak 10 langkah dari pintu kamarku. Di sana, usahaku lumayan membuahkan hasil. Bongkar muatan yang terjadi di kamar mandi itu hanya sedikit saja, namun sedikit melegakan bagiku. Aku mencuci tangan di washtafel sambil berkata dalam hati bahwa pagi ini begitu dingin, aku harap asrama punya keran air panas.

Aku ingat semalam aku menyalakan satu kipas sebelum tidur karena aku pikir malam ini bakal panas. Tapi malah menjadi dampak tidak baik bagiku. Ah, seandainya tidak kunyalakan mungkin aku tidak sakit perut. Tapi menyesal tinggallah menyesal.

Minyak kayu putihku yang berbotol kecil tenggelam di antara barang-barang yang kuletakkan asal di sebuah kotak di atas meja belajarku. Aku bersyukur menemukannya dan segera mengoleskannya di perutku, berharap mendapat sedikit rasa hangat karena dingin pagi ini sungguh bukan hawa yang kondusif untuk perut yang masuk angin.

Ketika aku duduk dan menulis blog, aku rasa aku memang butuh teh hangat. Pacarku lah yang selalu bilang

Kalo aku capek, cukup mandi terus minum teh hangat itu udah cukup buatku.

Sepertinya mandi bukanlah hal yang tepat, jadi aku memutuskan untuk mengambil bagian minum teh-nya saja. Terbayang cairan hangat itu mengalir di lidahku memberi rasa manis, melewati tenggorokan yang langsung meluncur ke perut (hey, aku pun belajar Biologi, aku tahu apa saja urutan makanan masuk ke dalam sistem pencernaan, tetapi untuk saat ini mari kita fokus terhadap realita bahwa biasanya orang merasakan hal yang seperti aku baru saja deskripsikan.)

Handphone milikku tergeletak jauh di kamarku, sedangkan pantatku sudah cukup nyaman duduk di sofa ruang TV sambil memangku Pico dan ujung jariku terus menyentuh setiap alphabet yang dapat kukombinasikan di post yang hendak kutulis.

Perutku tiada lebih baik, jadi sebaiknya aku segera minta teh hangat…

Advertisement

About Amelia FK

A creative thinker, a complicated person... But the more complicated I am, I realize how awesome God has made me. I'm His child, His image. :) View all posts by Amelia FK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.