Puteri Malu

Mengantri di TC Print, dengan muka muram dan mulai mengantuk, saya menatap sebuah titik dengan hampa. Konsentrasi saya buyar semua. Roh-roh malas mulai merasuk, ingin saya tengking, tapi saya bingung karena jiwa saya terbawa olehnya.

Sementara barisan di depan saya masih cukup pendek namun lama, pikiran saya mulai lagi. Tidak melakukan apa-apa selalu membawa saya berpikir tentang seseorang yang jujur saja sakit untuk dipikirkan.

Aku termakan cemburu, pikirku.

Janganlah… masakkan aku harus seperti orang gila? Aku gila menahan perasaan, aku gila menyembunyikan kesedihan dan kesendirian, aku gila tidak tahan melihat sikapnya yang terlalu cuek untuk seorang ‘teman’ (yah, kalau pun dia memakai istilah itu untuk hubungan kami sekarang. Namun aku merasa dia menatapku seakan aku alien.) Produk kegilaan ini adalah sebuah diam yang tak terusik. Ada saat ketika emosi aku mulai membara dan aku hanya bisa…

Tik…

Meneteskan sebutir air mata.

Selanjutnya, bibirku tak berani berucap apapun, walaupun sebelumnya pun aku sudah banyak diam.

Yang terluncur setiap hari hanyalah doa…

Aku segera menarik pikiran sedihku yang mulai melanglang buana ini kembali ke kepalaku, tempat ia berdiam seharusnya. Aku sedikit terhenyak ketika aku mengingat kata maaf.

Ya, seperti puteri malu. Ia duduk di pinggir jalan. Apa lah keindahan puter malu selain bunganya yang berwarna merah muda dan daunnya yang terkenal menutup ketika disentuh?

Kaulah puteri malu…

Engkau duduk di tepian cinta

Menanti setiap mata yang memandangmu memuja

Hanya sebuah tatap, kasih, nan syahdu…

Sepasang mata…

Ya, seperti itu!

Ia menatapmu penuh cinta. Mengagumimu seakan engkaulah bunga tercantik yang bisa ia temui.

Hatimu bergejolak bergembira. Cinta itu menari antara kau yang kecil, dan ia yang agung berada di hadapanmu.

Namun durimu, wahai puteri malu, durimu melukainya…

“Maafkan aku,” serumu, “Aku baru menyadari duri ini…”

“Tak apa, sayang…”

Ia terus berusaha menggapaimu, namun duri semakin menyakitinya. Yang dia inginkan adalah dirimu. Yang ia inginkan adalah bersamanya.

Semakin terseok, ia mencoba untuk terakhir kalinya.

Ujung jarinya yang berdarah mencoba merangkulmu

“Tidak…tidak dengan daunku!”

Terlambat. Ia menyentuh daunmu, mengira akan membuatmu bahagia.

Engkau mulai menutup…

“Jangan…”

Menutup…

“Tolong aku…”

Tutup…

“Jangan pergi…”

Di balik airmata yang menggenang di bola matamu, engkau hanya melihat daun-daun… kau tak yakin dia di sana atau tidak. Kau tak yakin ia menunggumu terbuka kembali atau tidak. Yang engkau ingat hanyalah pilunya saat ketika kau telah melukainya dan membuatnya, mungkin, pergi…

Maaf… katanya

Dan engkau berkata, “kalau aku dapat merontokkan semua duri ini, mungkinkah engkau kembali?”

About Amelia FK

A creative thinker, a complicated person... But the more complicated I am, I realize how awesome God has made me. I'm His child, His image. :) View all posts by Amelia FK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.